Saudara, kita sering mendengar ungkapan HATI-HATI. Kita pun sering
memberi nasihat kepada orang lain untuk berhati-hati. Tetapi
sesungguhnya, hampir dari kita semua tidak mengerti dengan
jelas, apakah
sesungguhnya yang disebut dengan 'hati-hati' itu. Hati-hati itu memang
perlu. Di mana saja kalau hati-hati itu memang baik, tetapi kalau orang
yang saudara beri nasihat itu bertanya, yang disebut hati-hati itu yang
bagaimana? Saudara mau jawab bagaimana? Apakah kalau mengendarai mobil
140 km/jam, itu sembrono? Tapi kalau mengendarai mobil 40 km/jam, itu
kelewat takut! Apakah yang hati-hati itu kalau 90 km/jam? Apakah begitu?
Tidak begitu saudara.
Saudara, yang dimaksud dengan hati-hati adalah suatu sikap yang
didasari dengan niat yang baik. Niat adalah kehendak, dorongan pikiran,
motivasi, yang mendasari pemikiran kita. Dan baik adalah positif,
bersih. Bersih artinya bersih dari kehendak yang tidak baik. Apapun yang
menjadi sikap kita, perbuatan kita, yang kita lakukan dengan jasmani
atau ucapan, sebelum kita melakukannya, itu akan muncul dalam pikiran
kita sebagai "kehendak".
Pikiran itu adalah awal, pikiran itu adalah pemula, pikiran itu
adalah pendahulu, pikiran itu adalah pemimpin. Apapun yang akan kita
ucapkan, yang kita lakukan, sebelum kita melakukan, sebelum kita
mengucapkan, ia telah muncul lebih dahulu di dalam pikiran kita.
Misalnya pohon yang ada di sana itu. Memang saudara tidak bisa
membuat pohon ini. Dia tumbuh secara alami. Tetapi agar pohon ini bisa
ada di sini, sebelumnya ada seseorang yang mempunyai niat, "Saya akan
menaruh pohon ini didepan patung itu". Setelah niat itu muncul kemudian
dia berpikir lebih mendalam, di mana pohon itu harus diambil, pohon
jenis apa yang cocok, kemudian dia berpikir yang lebih detail. Juga,
sebelum patung ini muncul, ia muncul terlebih dahulu di dalam ide
seseorang. Saya ingin membuat patung garuda. Dari ide itu kemudian
muncul rencana. Patung garuda yang seperti apa, yang sebesar apa, yang
model apa, bahan apa, sikapnya seperti apa, kalau dijual harganya
berapa, dll. Dan kemudian muncul patung seperti ini. Sebelum bangunan
ini muncul, sebelum gedung-gedung itu muncul, muncul lebih dahulu dalam
pikiran seseorang. Saya akan membangun gedung 4 lantai, kemudian dibuat
detailnya, dibuat rencananya, dipanggil arsitek, dihitung konstruksinya,
dihitung biayanya, berapa lama bisa dilakukan, dan sebagainya, lalu
dilaksanakan dan kemudian jadi.
Yang memutuskan adalah pikiran kita. Jadi betapa pentingnya peranan
kehendak itu. Oleh karena itu, orang yang ingin bersikap hati-hati,
minimal dia harus mempunyai kehendak yang baik. Kehendak yang bersih
dari kehendak tidak baik, bersih dari unsur-unsur yang tidak baik.
Kehendak yang negatif, yang tidak baik, akan melahirkan atau
menghasilkan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan yang tidak baik itu
adalah selain merugikan diri sendiri juga akan merugikan orang lain.
Niat yang tidak baik itu, yang akan merugikan orang lain, tidak
mempunyai dukungan kuat. Dengan kalimat yang lain, tidak masuk akal,
tidak sah. Mengapa demikian? Karena, bukankah semua makhluk,
setidak-tidaknya sesama manusia, setiap orang, semuanya, agama apapun
yang dianut, suku bangsa apapun, bagaimanapun profesi sosialnya, apakah
orang kaya, orang miskin atau sangat miskin, semuanya menginginkan
kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan, obsesi, dan keinginan setiap
orang. Bahkan pencuri sekali pun kalau ditangkap dan ditanya, "Kamu
mencuri itu apa sih tujuannya?" Pencuri itu menjawab: "Saya mencuri itu
karena saya ingin bahagia". Tidak ada pencuri yang mencuri untuk
sengsara, "Saya mencuri supaya nanti saya ditangkap, supaya digebuki",
tidak ada. Pencuri pun seperti saudara, seperti kita, dia mencuri itu
sesungguhnya juga ingin bahagia, hanya caranya yang salah. Apakah ada
alasan kita untuk membencinya? Sesungguhnya, tidak. Justru kasihan.
Alangkah lemahnya orang yang mempunyai kehendak yang mengandung
unsur untuk mencelakakan, memojokkan, menghancurkan, atau melenyapkan
orang lain, alangkah lemahnya dia, tidak masuk di akal, tidak bernalar.
Mengapa harus mempunyai niat yang menghancurkan, memojokkan, atau
melenyapkan orang lain? Mengapa? Bukankah semua orang termasuk saudara,
ingin bahagia? Mengapa saudara berbuat begitu? Oleh karena itu saudara,
saya ingin memberi garis bawah yang tebal untuk ini. Kalau saudara ingin
berhati-hati, cobalah berusaha untuk mengamat-amati, memeriksa,
mengintip, mengecek setiap kehendak saudara, apakah kehendak saya ini
mengandung unsur yang negatif ataukah positif? Itu adalah sikap
hati-hati yang minimal. Itulah kriteria hati-hati yang pertama.
Kalau saya boleh mengumpamakan, "kehendak" itu seperti produsen.
Ucapan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan —yang baik pun yang
tidak baik? itu seperti produk (hasil produksinya). Kalau produsen itu
memproduksi barang-barang dengan bahan-bahan yang baik, pasti hasil
produksinya itu baik. Jadi saudara, bagaimana menjaga ucapan, perbuatan
kita agar tidak menghancurkan, merugikan orang lain, melenyapkan,
membunuh orang lain atau makhluk lain, sebetulnya tidak perlu saudara
pusing kalau saudara bisa menjaga kehendak saudara, pasti ucapan dan
tingkah laku yang muncul itu akan baik.
Kadang-kadang walau kita sudah punya niat yang baik, masih saja ada
orang yang salah mengerti. Salah mengerti adalah sesuatu yang tidak bisa
kita hindari. Karena kita tidak bisa membuat orang lain mempunyai
pandangan seperti yang kita harapkan. Tetapi saudara, minimal sudah
punya itkad baik, niat baik, kehendak baik, itu sudah positif.
Orang yang hati-hati adalah orang yang selalu memeriksa kehendaknya,
mengamat-amati kehendaknya, jangan sampai menimbulkan kehendak yang
negatif, yang merugikan orang lain. Tetapi ini tidak cukup. Memang
berhati-hati itu harus mempunyai niat yang baik, kehendak yang positif,
tetapi tidak hanya asal mempunyai kehendak yang positif, tidak hanya
asal mempunyai niat baik.
Saya ingin menguraikan faktor yang lain, yaitu, ingatan, pengenalan,
kesadaran, kewaspadaan, atau perhatian; mewaspadai setiap saat
kehendak-kehendak yang muncul. Kewaspadaan misalnya: dari berdiri sudah
agak lama saya ingin duduk. Saya harus tahu dengan jelas kehendak ini
apakah positif atau negatif. Kalau hanya dari berdiri ingin duduk, dari
duduk ingin berdiri, dari duduk ingin berjalan itu netral (tidak
positif, tidak negatif). Tetapi juga selain duduk, berdiri dan berjalan,
kita juga mempunyai kehendak lain, misalnya ingin menemui dia, ingin
melakukan ini, ingin melakukan itu. Mengamat-amati kehendak itu adalah
fungsi dari hati. Makin kuat hati kita, kita tidak akan kecolongan.
Makin lemah hati kita, kehendak kita akan muncul tidak karu-karuan. Lalu
bagaimana agar hati ini menjadi kuat? Ia harus dilatih. Tidak ada atlet
yang langsung mempunyai otot yang kuat, nafas yang panjang, daya tahan
fisik yang kuat, tetapi itu harus dilatih. Demikian juga hati yang kuat,
kewaspadaan yang kuat, perhatian yang kuat, yang tidak lengah, tidak
sembrono, itu harus dilatih. Kalau hati saudara baik, maka niat saudara
akan terseleksi. Tidak akan muncul begitu saja, tanpa diketahui, tanpa
dilihat, tanpa diamat-amati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar